Harga Tomat Turun, Petani
Merugi
DOLOK SANGGUL – Para petani tomat
di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) dalam dua bulan terakhir mengalami
kerugian akibat anjloknya harga tomat. Para petani berharap agar pemerintah
memberikan solusi untuk mengatasi harga yang tidak pernah stabil tersebut.
Saat ini harga tomat di pasaran
berkisar antara Rp 2000 hingga Rp 3000 per kilogram. Harga tersebut dinilai
tidak sebanding dengan biaya produksi dan operasional petani selama mengelola
tomat. “Jauh di bawah harga biasanya. Dengan kondisi ini jelas membuat kami
para petani tomat menelan kerugian besar," ujar salah seorang petani, A
Simanjutak, 45 Kamis (9/4/2015) di Dolok Sanggul.
Anjloknya harga tomat di pasaran
menurut Simanjuntak sudah merupakan hal biasa dan tidak pernah memiliki solusi.
Terlebih akibat pasokan melimpah dari seluruh sentra pertanian di kawasan
Sumatera. "Musim tanam lalu saya mengeluarkan modal untuk menanam tomat
sekitar Rp10 juta, untuk tiga ribu batang tomat. Sementara jika produksi kami
berkisar satu ton per panennya dengan harga rat-rata Rp 3000 per kilogram maka
per panen kami hanya menerima sekitar Rp 3 juta dengan masa produksi sekitar
dua bulan,” katanya.
Para petani di Humbahas
tidak memiliki alternatif lain dengan tanaman tomat mereka. Tomat menurut
mereka sulit diolah menjadi manisan selain jadi saos. Petani lainnya, Henri Silaban,
32 mengaku tanaman tomatnya sempat akan diborong oleh seorang penampung. Namun
setelah dinyatakan tingginya produksi dari beberapa daerah di luar Humbahas
maka penawaran terhadap Tomat turun hingga Rp 2000 per kilogram dari sebelumnya
Rp 5000 per kilogram.
Pengamat pertanian di Tapanuli,
Lambas Hutasoit mengatakan over produksi selalu menjadi masalah yang sangat
mempengaruhi kelanjutan hidup petani. Hal ini disebabkan minimnya penataan
pertanian oleh pihak pemerintah. Karena itu petani yang harus lebih aktif
mengakses informasi tentang pengelolaan pertanian. "Kelemahan kita selama
ini terletak pada minimnya penataan pertanian. Sebab anjloknya harga bukan
karena minim permintaan tetapi karena produksi yang berlebihan. Dan ini yang
menjadi masalah," ujarnya.(BARINGIN/ANDI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar